Dari Pingpong Menoreh Solusi Sengketa & Kenal Gadis Desa. ronorene jadikan judul berbagi pengalaman tak bisa terlupakan yang terjadi sekitar tahun 2000 an kalau tak salah ingat. Maklum foto foto sudah pada raib dan menjadi arsip kantor tempat kerja. Saat itu menjadi team survey pengukuran di areal mulut tambang PT Bukit Asam Sumatera Selatan, tepatnya masuk kabupaten Muara Enim (wilayah alm Taufik Kiemas suami Ibu Megawati). Lokasi survey sekitar desa Arahan masuk wilayah administrasi Lahat. Di Lahat mayoritas tetap berbahasa jawa. Base camp nya di kantor Pos setempat dengan sohibul bait (penjaga utama) Bp Muji (alhamdulillah masih ingat). Obyek pengukuran seluas kurang lebih 250 Hektar terdiri dari sawah, hutan murni, kawasan tanah mengandung gas, dan kawasan batubara volume kecil serta kawasan mengandung minyak bumi juga volume kecil. Di berbagai lokasi, minyak minyak ini bisa diambil secara langsung oleh warga dengan gayung diberi tongkat. Betapa kayanya daerah Sumatera Selatan yauw ?. 

tanda lingkaran lokasi proyek wilayah muara enim

Singkat cerita (kocap kacarito dalam bhs Jawa), timesheet surve pengukuran 2 bulan bisa tercapai karena memang banyak team, ada 7/ 8 team. Masing masing team dilengkapi Local Labour (tenaga lokal 4 orang) dengan honor 2 mingguan. Jelang seminggu pengukuran selesai, disinilah ada sedikit hesekan dengan warga termasuk lahan para tenaga lokal termasuk Pak Lurah yang lahannya terkena pengukran. Intinya mereka minta ganti rugi kena rintisan yakni : pemotongan baik dedaunan, batang, tangkai hingga pohon pohin yang dipotong buat jalur pengukuran (route survey). Perusahaan tempat kami kerja tak menduga ada kejadian demikian, dan jumlahnya fantastis yakni 2500 an komplain lahan. Masing masing ajukan 5 rb/ lahan dan ini menjadikan berita baru dalam lapangan oleh PT Geomarindex yang biasa dengan jasa survey. Termasuk kantor pusat yakni PT Wiratman & Associates Jakarta sebagai induk konsultan. Tak ada kata sepakat, dan seminggu kemudian pengukuran selesai total.

Lapangan selesai, tinggal kerjaan administrasi yakni penyelesaian sengketa lahan dan ganti rugi. Kami yang yang masih bujang, memberanikan diri hadapi itu semua. Para surveyor rata rata sudah punya keluarga dan anak, tak mau terlibat hal ini maklum mereka pekerja lepas sementara kami masih uci coba 3 bulan sebagai Team Leader (korlap). Rapat ke rapat tetap menemui jalan buntu meski PT Bukit Asam juga menjadi pihak  meeting value (pihak netral) selaku pemegang konsesi. Seminggu sendirian di rantau dengan persoalan yang tak menentu, tiap malam ditemani lagu lagu melayu khas Sumetra sambil memikirkan ide apa dan bagaimana. Masuk 2 minggu an, ada lomba 17 an Agustus an di desa dimana kami tinggal dan dengan percaya diri (PD) kami mendaftar lomba  : adzan, karaoke dan pingpong. Meski sedang bermasalah, panitia bisa berbesar hati menerima pendaftaran kami. Di lomba adzan dapat nomor : 2, karaoke dapat juara 3 bersama. Di Pingpong ....??? Ini yang menjadi sejarah dan tak bisa dilupakan. Lawan lawan dari desa desa bisa kami tumbangkan dengan Game nilai : 21, bed nya masih tipe lama beli dadakan di Toko Olga Muara Enim dg merk Double Happines.

kostum bebas ala lapangan

Di Final akhirnya temu sang jawara kabupaten yakni saudara Arifin kalau tak salah panggilannya. Rumahnya tak jauh dari Base Camp. Pertandingan sangat tegang, kami hanya punya 2 suporter yakni P Muji penjaga kantir Pos serta Tini, gadis desa yang dikenalkan Pak Babinsa usai kerja lapangan selesai, khan sama bujangnya. Seru sekali pertandingan hingga Long Set, dan di akhir set kami minta time out buat keluarkan jurus jurus servis yang cukup efektif dan akhirnya bisa menang dengan angka telak : 21-14. Ternyata ada wartawan utusan PT. Bukit Asam ikuti acara ini, dan esoknya masuk koran lokal. Bahwa Team Ukur mitra Bukit Asam mengalahkan jagoan Kabupaten. Karena sempat masuk koran meski lokal, akhirnya ada semacam aplause dari kalurahan, kecamatan dll. Dari sinilah jalan meuju roma terbuka lebar. Kami di posisi di atas angin, dan ini kami sampaikan di kantor pusat juga. Akhirnya rapat ganti rugi Bukit Asam jadi dewa penolong untuk mudahkan nego nego baik haprga jumlah lahan dll. Akhirnya disepakati jumlah lahan bisa diganti : 2000 an dengan per@ nya 2500 atau total nya  lebih kurang 5 juta, dari total 12 juta nilai komplain.  Malasemua aklamsi sepakat disaksikan tokoh setempat serta 2 orang dari Bukit Asam.

oprator gambar yang musti siap lembur di proyek

2 Hari buat selesaikan tanda tangan 2000 an lahan, dokumen kami kirim ke Jakarta dengan resume berupa 1 lembar kesimpulan dengan Faximili (teknologi saat itu) dan esoknya bisa CAIR. Tepat di hari ke-10 undangan penerima dibagikan dan disaksikan aparat desa kami hadiri acara pembagian ini dengan rasa yang lega. Ternyata dengan Pingpong dan kebetulan beruntung menang jadi jalan kemudahan selesaikan masalah yang rumit dan sebagian orang alergi akut urusan sengketa entah kecil menengah atau besar. Selesai sudah cerita dari Wong kito Galo.....hehehehe...gaskeun

Lalu kisah kenal dengan gadis desa Tini bagaimana.......?? Namanya juga sedang suka ria rayakan kemenangan selesaikan sengketa lahan jadi lupa, dan esoknya kami pamitan untuk menuju Palembang standby 1 hari buat bikin laporan, lusanya terbang ke Jakarta untuk pulang ke kantor PT Geomarindex Bendungan Hilir belakang wisma BRI. Konsultan ini anak perusahaan ternama PT Wiratman Association. Yang pernah di PU (pekerjaan umum) atau civil akan kenal dengan nama Wiratman.